Alusista Serta Kekuatan Militer Yang Ada di Indonesia

Di tahun 2020, global fire power tempatkan kebolehan militer Indonesia di status ke-16 dari 138 negara di dunia. Indonesia mendapat index kebolehan 0,2544 (nilai prima 0,0000). Secara global, urutan kesatu ditinggali oleh Amerika Serikat dengan angka 0,0606 diikuti Russia (0,0681) dan China (0,0691).

Di Asia Tenggara, Indonesia mempunyai kekuatan militer paling besar. Kebolehan militer negara lain di Asia Tenggara sehabis Indonesia merupakan Vietnam di status 22 (0,3559) dan Thailand di rangking ke-23 (0,3571). Negara tetangga Indonesia, Malaysia, ada di rangking ke-44 dengan angka 0,6546. Sementara Singapura dengan angka 0,7966, ada di rangking ke-51.

Kebolehan militer sebuah negara, berdasar pada Berita Militer bisa disaksikan dari 8 bagian pembentuknya, ialah sumber daya manusia, kebolehan udara, kebolehan darat, kebolehan laut, sumber daya alam, logistik, keuangan, dan geografi. Alat inti mekanisme senjata (alutsista) sebagai salah satunya pembentuk kebolehan itu, baik alutsista kebolehan militer darat, udara, atau laut.

Sumber daya manusia

Kebolehan militer sebuah negara dari segi sumber daya manusia tak semata-mata disaksikan dari jumlahnya anggota tentaranya. Sumber daya manusia selaku kebolehan militer termasuk pula keseluruhan komunitas, tersedianya angkatan kerja, tersedianya angkatan kerja yang siap untuk diperbantukan setiap saat, jumlah warga pada satu tahun yang capai usia jadi tentara, jumlah anggota militer, jumlah militer aktif, sampai jumlah anggota cadangan.

Jumlah anggota militer jadi partisan inti kebolehan militer di satu negara, khususnya anggota aktif yang siap langsung dipakai untuk pertarungan. Dan kebolehan militer cadangan bisa disebut sama keperluan.

Di lain bidang, jumlah warga di satu negara, khususnya angkatan kerja yang penuhi kriteria untuk kepentingan militer, memberi keuntungan pada keadaan perang untuk membuat pasukan perang khususnya dalam perang periode panjang.

Di tahun 2020, tersedianya anggota militer di Indonesia lebih kurang 800.00 anggota, dengan 400.000 anggota aktif dan 400.000 anggota cadangan. Jumlah anggota militer aktif di Indonesia menduduki uratan ke-13 dunia dan anggota cadangan menduduki barisan ke-16 dunia.

Di lain bidang, pada jumlah warga sekitar 262,8 juta jiwa, beberapa 130,9 juta jiwa warga Indonesia atau nyaris lima puluh prosentasenya sebagai angkatan kerja. Dari jumlahnya angkatan kerja itu, 108,6 juta jiwa sebagai sumber daya yang bisa diperbantukan untuk memberikan dukungan kebolehan militer. Secara jumlah warga dan warga yang siap diperbantukan dalam perang, Indonesia menduduki barisan keempat di dunia.

Kebolehan udara

Kebolehan militer satu negara pula dikuasai oleh kebolehan pertahanan udaranya, khususnya pesawat, baik yang dipunyai oleh angkatan udara, laut, atau darat. Kebolehan udara itu terdiri dari pesawat tempur, pesawat untuk gempuran darat, pesawat angkut, pesawat latih, pesawat intai dan visi khusus, helikopter, sampai helikopter tempur.

Pesawat tempur sebagai kebolehan udara inti lantaran bisa dipakai khususnya dalam pertarungan udara untuk menyerbu pesawat lain sampai menyerbu object di darat. Disamping lan, ada pula pesawat yang khusus dipakai untuk menyerbu sasaran di darat.

Seterusnya, pesawat latih pula dipandang sebagai aspek partisan kebolehan militer udara lantaran sanggup dipakai untuk beragam kepentingan. Dan, pesawat angkut sebagai kebolehan militer udara selaku pengangkut pasukan dan perlengkapan perang di satu negara.

Kebolehan udara pula ditunjang oleh pemilikan helikopter lantaran helikopter punyai elastisitas ketimbang dengan pesawat jet atau baling-baling depan.

Di tahun 2020, kebolehan pertahanan udara Indonesia sejumlah 462 pesawat yang terdiri dari 41 pesawat tempur, 39 pesawat gempuran khusus, 54 pesawat angkut, 109 pesawat latih, 5 pesawat intai dan visi khusus, 177 helikopter, dan 16 helikopter tempur.

Pada jumlah itu, kebolehan udara Indonesia menduduki uratan ke-28 di dunia, paling tinggi di Asia Tenggara. Namun, khusus untuk jumlah pemilikan pesawat tempur, Indonesia ada di barisan ke-48, di bawah sejumlah negara ASEAN lain, seperti Singapura (22), Vietnam (28), Thailand (30), dan Myanmar (36).

Kebolehan darat

Kebolehan militer darat satu negara bisa disaksikan dari alutsista darat yang dipunyai, ialah tank, kendaraan tempur lapis baja, artileri, dan peluncur roket.

Pemilikan tank dipandang sebagai kebolehan militer darat inti lantaran sebagai alutsista yang dipakai di garis depan pada suatu perang bersama-sama dengan dengan kendaraan tempur lapis baja.

Di lain bidang, kebolehan darat pula disaksikan dari pemilikan artileri, baik artileri swagerak atau artileri ambil sebagai alutsista jarak menengah dan jauh. Pemilikan pelontar roket, tidak cuman jadi kebolehan darat untuk menyerbu sasaran jarak jauh, khususnya lebih jadi kebolehan kejiwaan untuk mendesak akhlak lawan.

Di 2020, Indonesia punyai 133 tank. Di tempat Asia Tenggara, Vietnam jadi negara yang punyai tank terbanyak maka dari itu ada di barisan kesepuluh pemilikan tank di dunia, diikuti Thailand (25), Myanmar (37), dan Indonesia (49).

Tidak hanya itu, Indonesia punyai 1.178 kendaraan tempur lapis baja. Dari jumlahnya itu, Indonesia ada di status ke-52 dunia, di bawah Singapura yang ada di status ke-25, Vietnam (29), Thailand (45), dan Malaysia (46).

Indonesia pula punyai 153 artileri swagerak, 366 artileri ambil, dan 36 peluncur roket. Jumlah pelontar roket itu tempatkan Indonesia di status 57 dunia dari segi pemilikan pelontar roket, di bawah Kamboja (status 9), Vietnam (40), Myanmar (41), dan Malaysia (50).

Kebolehan laut

Kebolehan laut partisan kebolehan militer satu negara terdiri dari sejumlah bagian, di antaranya kapal pengangkut pesawat, kapal pemusnah, kapal fregat, kapal korvet, kapal selam, kapal patroli, dan kapal penyapu ranjau.

Dari beberapa tipe kapal di atas, kapal pengangkut pesawat, tergolong pengangkut helikopter, sebagai kebolehan inti militer di laut lantaran potensinya dalam mengangkat pesawat tempur di titik paling dekat dengan target atau pusat pertarungan.

Di tahun 2020, kebolehan laut Indonesia sejumlah 282 alutsista yang terdiri dari 7 kapal fregat, 24 kapal korvet, 5 kapal selam, 156 kapal patroli, dan 10 kapal penyapu ranjau. Dari jumlahnya itu, kebolehan laut Indonesia menduduki barisan kesepuluh dunia dan nomor dua di Asia Tenggara sehabis Thailand (status 8).

Pada jumlah kapal paling banyak yang dipunyai Indonesia, ialah kapal patroli, Indonesia ada di barisan ketujuh dunia berdasar pada jumlah kapal partroli, nomor dua di Asia Tenggara, di bawah Thailand (status 4).

Di ASEAN, jumlah kapal penyapu ranjau Indonesia terbanyak dan menduduki status ke-17 dunia. Dan, jumlah kapal selam Indonesia nomor dua di ASEAN dan nomor 24 di dunia sehabis Vietnam (status 20) dengan 6 kapal selam.